Logo SantriDigital

terkait idul adha

Ceramah
W
Waryono
2 Mei 2026 4 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْمُرْسَلِين...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَدْ جَعَلَ ٱللَّٰهُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِيدَيْنِ، عِيدَ ٱلْفِطْرِ وَعِيدَ ٱلْأَضْحَىٰ، وَفِي كُلٍّ مِنْهُمَا مَشْرُوعٌ وَفِعْلٌ، وَفِي عِيدِ ٱلْأَضْحَىٰ ضَحِيَّةٌ وَإِضْحَاءٌ. قَالَ ٱللَّٰهُ تَعَالَىٰ: {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ} (الكوثر: 2) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat para alim ulama, para kiai, para tokoh agama, Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta seluruh hadirin sekalian yang berbahagia. Suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di tengah-tengah Bapak, Ibu, Saudara-saudari sekalian pada hari yang penuh berkah ini. Syukur alhamdulillah, kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat. Hari ini, kita disatukan oleh momen istimewa, momen kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Adha, atau yang biasa kita kenal sebagai Hari Raya Kurban. Sebuah perayaan yang bukan hanya sekedar seremoni, tetapi mengandung makna yang sangat dalam, sebuah pelajaran hidup yang terus relevan sepanjang masa. Tema yang akan kita kupas pada kesempatan kali ini adalah "Idul Adha: Meneladani Ketulusan Nabi Ibrahim dan Meraih Berkah Kurban". Hadirin yang dirahmati Allah, Idul Adha mengingatkan kita pada kisah teladan yang luar biasa, yaitu kisah Nabi Ibrahim Alaihis salam. Ketika Allah SWT mengujinya dengan perintah yang berat, yaitu menyembelih putra kesayangannya, Ismail Alaihissalam. Bayangkanlah, seorang ayah yang harus menyembelih buah hatinya yang telah lama dinanti. Namun, apa yang kita lihat dari sosok Nabi Ibrahim? Sebuah ketundukan total kepada perintah Allah. Beliau tidak ragu, tidak menolak, bahkan ketika Ismail pun berkata dengan penuh bijak, "Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102). Kisah ini mengajarkan kita tentang hakikat ketulusan dan kepasrahan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Ketulusan Nabi Ibrahim bukan sekadar bentuk fisik, melainkan ketulusan jiwa, ketulusan dalam berkorban, bahkan mengorbankan apa yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Sang Pencipta. “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143). Kemudian, mari kita perhatikan esensi dari Idul Adha, yaitu ibadah kurban. Allah SWT berfirman: {وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا ٱسْمَ ٱللَّٰهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَامِ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ} "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah dianugerahkan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka ilah kalian adalah ilah yang satu, oleh karena itu berserah dirilah kepada-Nya. Dan berikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh." (QS. Al-Hajj: 34). Ayat ini menegaskan bahwa perintah berkurban adalah ibadah yang syariatkan untuk semua umat, sebagai bentuk penyerahan diri dan rasa syukur kepada Allah atas rezeki. Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi sebuah simbol pengorbanan yang lebih luas. Ada makna ketulusan di baliknya. Seseorang yang berkurban, sejatinya sedang berusaha meneladani Nabi Ibrahim, di mana ia memberikan hartanya, bagian dari rezeki yang Allah berikan, untuk dibagikan kepada sesama. Para ulama menjelaskan, bahwa kurban itu adalah salah satu ibadah yang paling utama pada hari Idul Adha. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Tidak ada amalan anak Adam yang lebih dicintai Allah pada hari raya Kurban selain mengalirkan darah (menyembelih kurban). Sesungguhnya ia datang pada Hari Kiamat dengan tanduk-tanduknya, kukunya, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah (kurban) itu telah sampai di satu tempat di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Maka sucikanlah diri kalian dengannya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Hadits ini menegaskan betapa bernilainya ibadah kurban di sisi Allah. Keberkahannya bukan hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi bekal berharga di akhirat kelak. Namun, penting bagi kita untuk memahami bahwa yang terpenting dari kurban ini adalah niatnya. Niat yang tulus ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji, bukan karena sekadar ikut-ikutan. Itulah ketulusan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Bagi kita yang mungkin belum mampu berkurban secara materi, janganlah berkecil hati. Kurban itu memiliki makna yang luas. Ketulusan dan pengabdian kepada Allah dan sesama dapat diwujudkan dalam bentuk lain. Menolong tetangga yang membutuhkan, memberikan ilmu yang bermanfaat, menjaga lisan dari perkataan buruk, bahkan tersenyum kepada saudara kita, itu semua adalah bentuk pengorbanan yang bernilai di hadapan Allah. “Sangat sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk merefleksikan diri. Seberapa tulus kita dalam beribadah? Seberapa besar pengorbanan kita di jalan Allah? Seberapa peduli kita terhadap sesama? Kurban mengajarkan kita untuk melepaskan belenggu egoisme dan keserakahan, menggantinya dengan empati dan kepedulian. Dengan berkurban, kita sedang melatih diri untuk lebih peka terhadap kondisi saudara-saudara kita, terutama mereka yang kurang mampu. Daging kurban yang kita bagikan, insya Allah akan menjadi penawar lapar bagi mereka, dan menjadi bekal kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan hari raya Idul Adha ini untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, melatih keikhlasan dalam beribadah, dan mempererat tali silaturahmi antar sesama. Segala puji hanya milik Allah. Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga apa yang telah disampaikan membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. وَٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →